Persalinan Dengan Cara Operasi

Persalinan yang sesuai dengan rencana sangat diidam-idamkan semua orang. Tak heran persiapan menghadapi persalinan pun sudah dilakukan jauh hari sebelumnya dengan melibatkan banyak pihak yang dianggap perlu. Namun, persiapan yang telah matang ini juga bukan berarti tanpa celah bagi terjadinya keadaan darurat yang membutuhkan keputusan untuk tindakan selanjutnya. Penyedia pelayanan kesehatan di bidang kebidanan seringkali menghadapi dilema saat mengambil keputusan pada proses persalinan.  Menurut Tevfik Yoldemir, M.D, dokter spesialis kandungan dan kebidanan di Marmara University Hospital, Istanbul, Turki, keputusan yang tepat sangat ditekankan untuk dapat diambil pada waktu dan keadaan yang tepat pula, dengan mempertimbangkan risiko, teknik dan kemampuan dari penolong persalinan.

Keuntungan melahirkan per vaginam

Mayoritas kaum ibu menginginkan bayinya lahir secara spontan, dalam ilmu kedokteran sering disebut per vaginam. Karena selain merupakan peristiwa yang normal (fisiologis), dalam persalinan per vaginam ini juga kecil kemungkinan adanya komplikasi pada bayi, ibu hanya kehilangan sedikit darah, komplikasi pascapersalinan berupa infeksi saluran kencing lebih sedikit, ekonomis, dan nyeri pascapersalinan lebih singkat, sehingga ibu dapat pulang dalam waktu kurang lebih 2 minggu.

Namun adakalanya persalinan spontan ini tidak dapat terjadi karena ditemukan faktor-faktor penghambat saat persalinan, misalnya ukuran panggul ibu yang sempit, bayi yang besar, ibu kelelahan, dan lain sebagainya. Diperlukan solusi untuk membantu ibu dan bayi agar tetap sehat dan selamat dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tevfik Yoldemir, M.D, mengungkapkan bahwa jika persalinan tidak dapat berjalan secara spontan, dapat dilakukan tindakan operasi per vaginam (operative vaginal birth), yang meliputi forceps dan vacuum. Persalinan dengan cara operasi melalui perut (sectio caesaria) atau dikenal dengan sebutan operasi caesar adalah alternatif operasi setelah operative vaginal birth.

Persalinan dengan tindakan operasi per vaginam (operative vaginal birth delivery)

Cara ini membutuhkan keahlian khusus dari penolong persalinan. Jika persalinan spontan tidak dapat diharapkan, dan kondisi serta keadaan bayi baik, maka cara ini dapat dipilih. Baik forceps maupun vacuum diambil pada akhir kala II (fase pengeluaran bayi) saat bayi tidak dapat keluar dengan spontan, padahal bagian bawah dari bayi sudah terlihat sebagian. Vacuum tidak boleh dilakukan pada bayi dengan presentasi muka. Selain itu, tindakan forceps dan vacuum hanya boleh untuk bayi cukup bulan, karena jika usia kehamilan kurang dari 36 minggu maka memperbesar risiko cephalhematoma (perdarahan di kepala) dan intracranialhemorrhagia (perdarahan di dalam rongga kepala).

Risiko sectio caesaria

Sebagai salah satu operasi besar, sectio caesaria (SC) tentu saja mempunyai risiko tersendiri. Misalnya, efek dari obat anestesi, kerusakan pembuluh darah, bekas luka irisan pada rongga uterus yang tidak menutup sempurna, serta gangguan kandung kemih atau organ lain. Sebanyak 8,9 persen wanita pascapersalinan dengan SC kembali ke rumah sakit karena komplikasi SC pascapersalinan, angka ini lebih tinggi dari wanita yang melahirkan per vaginam yakni 2,6 persen.

Luka pada rongga uterus juga dapat menyebabkan penurunan kesuburan, kehamilan ektopik terganggu, maupun plasenta previa. Hal ini dapat menjadi wacana dan pertimbangan bagi ibu yang menginginkan persalinan secara SC tetapi tidak dalam kondisi darurat.

Keuntungan sectio caesaria elektif

Sesungguhnya SC merupakan alternatif terakhir untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi, terutama bagi ibu dengan ukuran panggul yang sempit atau dystocia/cephalopelvic disproportion (CPD). Dalam kondisi ini ukuran kepala bayi  dengan ukuran panggul ibu tidak sesuai, sehingga tekanan pada bayi menyebabkan gangguan (fetal distress). Namun, dewasa ini banyak calon orang tua yang tidak dalam kondisi darurat memilih SC elektif sebagai cara persalinannya dengan alasan kepercayaan diri dan ketenangan. Dengan memilih SC elektif yang terjadwal jelas memungkinkan calon orang tua memilih hari sesuai dengan keinginan mereka tanpa melupakan kesehatan bayi. Pemeriksaan yang lebih teliti diharapkan mengurangi kemungkinan buruk yang dapat menimpa ibu dan bayi saat persalinan berlangsung.

Persalinan per vaginam setelah sectio caesaria

Banyak orang bertanya, “Bisakah melahirkan per vaginam setelah melakukan sectio caesaria pada persalinan sebelumnya?” Dokter Tevfik Yoldemir menjawab bahwa bisa saja melakukan per vaginam pasca-SC asalkan tidak terdapat luka pada uterus yang berbentuk huruf T, tidak pernah melakukan operasi hysterotomy (pengangkatan rongga rahim), dan myomectomy (pengambilan myoma rongga uterus) di ujung rongga rahim. Selain itu, pasien tidak mengalami rupture utery (robeknya rongga rahim) pada persalinan sebelumnya. Faktor-faktor lain yang mengharuskan dilakukannya SC juga tidak boleh ada pada pasien, misalnya placenta previa (plasenta yang menutupi jalan lahir per vaginam) dan kelainan letak (letak lintang). Sebuah penelitian mencatat, 1.776 wanita telah memilih persalinan per vaginam pasca persalinan SC sebelumnya, dan 74 % berhasil tanpa komplikasi.

Popularity: 100% [?]

Baca juga

  • No Related Post

 

2 Responses to “ Persalinan Dengan Cara Operasi ”

  1. ??? ????? ?? ? ?? ?? ????? ??????…

    Namun, persiapan yang telah matang ini juga bukan berarti tanpa celah bagi terjadinya keadaan darurat yang membutuhkan keputusan untuk tindakan selanjutnya…..

  2. ??? ??? ??, ??? ?????. ?????????? ????, ???? ???????????….

    ……

Leave a Reply